Jumat, 30 Juni 2017

Resume 1

Edit Posted by with No comments
A. Pengelolaan Kelas 1. Definisi Pengelolaan Kelas Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. Pengelolaan kelas meliputi 2 hal, yakni: a. Pengelolaan yang menyangkut siswa. b. Pengelolaan fisik (ruangan, perabot, alat pelajaran). 2. Tujuan Pengelolaan Kelas Tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas itu dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Sebagai indikator dari sebuah kelas yang tertib adalah apabila: a. Setiap anak terus bekerja, tidak macet, artinya tidak ada anak yang terhenti karena tidak tahu akan tugas yang harus dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya. b. Setiap anak terus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, artinya setiap anak akan bekerja secepatnya agar lekas menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Apabila ada anak yang walaupun tahu dan dapat melaksanakan tuganya, tetapi mengerjakannya kurang bergairah dan mengulur waktu bekerjanya, maka kelas tersebut dikatakan tidak tertib. 3. Sumber kesulitan Dalam pengelolaan kelas yang timbul disebabkan karena adanya keributan. Keributan ini bersumber pada 6 hal, yaitu: a. Siswa tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. b. Siswa sudah diberi tahu oleh guru tentang tugas-tugas yang harus mereka lakukan serta mereka sudah tahu, akan tetapi setelah beberapa lama kemudian mereka menjadi lupa akan tugasnya. c. Siswa sudah mengetahui apa yang harus mereka perbuat, dan mereka ini tidak lupa, akan tetapi tidak tahu bagaimana cara melakukannya. d. Ada beberapa atau sebagian besar siswa yang sudah selesai melaksanakan tugas sebelum waktunya habis, sehingga siswa tersebut membuat keributan. e. Ada diantara siswa di kelas itu yang merupakan anak malas, tak bergairah atau pengganggu, sehingga walaupun mereka melakukan tugas tetapi tidak dengan kesungguhan hati. Kadang-kadang mereka berhenti bekerja lalu bermain atau mengganggu kawan lainnya. f. Sebab terakhir yaitu adanya anak yang tidak tahu bagaimana menghargai waktu. Anak-anak ini tahu bagaimana melaksanakan tugas, serta mereka tidak malas, akan tetapi cara yang diambilnya kurang efisien, sehingga karena mereka risau atau takut tidak selesai pekerjaanya, lalu mereka menjadi gugup dan gaduh. 4. Petugas Pengelola Kelas Dengan gambaran keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa petugas yang terlibat dalam pengelolaan kelas agar segalanya berjalan dengan lancar adalah guru kelas atau guru bidang studi. Mereka langsung bertanggung jawab dalam mengadakan diagnosa dan menentukan tindakan apa yang harus diambil.   B. Mendesain Lingkungan Fisik Kelas 1. Prinsip Penataan Kelas Ketika memikirkan manajemen kelas yang efektif, guru yang tidak berpengalaman terkadang mengabaikan lingkungan fisik. Seperti yang akan anda lihat, desain lingkungan fisik kelas adalah lebih dari sekedar penataan barang dikelas. Prinsip penataan kelas, berikut ini empat prinsip dasar yang dapat anda pakai untuk menata kelas anda: a. Kurangi kepadatan di tempat lalu lalang. Gangguan dapat terjadi di daerah yang sering dilewati. Daerah ini antara lain: area belajar kelompok, bangku murid, meja guru, lokasi penyimpanan pensil, rak buku, komputer, dan lokasi lainnya. Pisahkan area-area ini sejauh mungkin dan pastikan mudah diakses. b. Pastikan bahwa anda dapat dengan mudah melihat semua murid. Tugas manajemen yang penting adalah memonitor murid secara cermat. Untuk itu anda harus bisa melihat semua murid. Pastikan ada jarak pandang yang jelas dari meja anda, lokasi intruksional, meja murid, dan semua murid jangan sampai ada yang tidak kelihatan. c. Materi pegajaran dan perlengakapan murid harus mudah diakses. Ini akan meminimalkan waktu persiapan dan perapian, dan mengurangi kelambatan dan gangguan aktivitas. d. Pastikan murid dengan mudah melihat presentasi kelas. Tentukan dimana murid anda akan berada saat presentasi kelas diadakan.untuk aktivitas ini, murid tidak boleh memindahkan kursi atau menjulurkan lehernya. Untuk mengetahui seberapa baik murid dapat melihat dari tempat mereka, duduklah di kursi mereka. 2. Gaya penataan Dalam pemikiran bagaimana cara anda mengorganisasikan ruang fisik kelas, anda harus bertanya pada diri sendiri tipe aktivitas pengajaran apa yang akan diterima murid (seluruh kelas, kelompok kecil, tugas individual, dan lain-lain). Pertimbangan penataan fisik yang paling mendukung aktivitas itu. Diantaranya: • Penataan kelas standar, gaya susunan kelas dimana semua murid duduk saling menghadap guru. • Gaya tatap muka (face-to-face), murid saling menghadap. Gangguan dari murid lain akan lebih besar pada susunan ini ketimbang pada susunan auditorial. • Gaya off-set, sejumlah murid (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain. Gangguan dalam gaya ini lebih sedikit ketimbang gaya tatap muka dan dapat efektif untuk kegiatan pembelajaran kooperatif. • Gaya seminar, sejumlah besar murid (10 atau lebih) duduk disusunan berbentuk lingkaran, atau persegi atau bentuk U. Ini terutama efektif ketika anda ingin agar murid berbicara satu sama lain atau bercakap-cakap dengan anda. • Gaya klaster (cluster), sejumlah murid (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil. Susunan ini terutama efektif untuk aktivitas pembelajaran kolaboratif. Berikut langkah-langkah mendesain kelas menurut Weinstein & Mignano: a) Pertimbangkan apa aktivitas yang akan dilakukan murid. Jika anda akan mengajar TK atau SD , anda perlu menciptakan setting untuk membaca dengan suara keras, mengajar membaca secara berkelompok, tempat untuk berbagi pandangan, pengajaran matematika dan tempat ketrampilan dan seni. b) Buat gambar rencana tata ruang. Sebelum anda memindahkan perabot, gambar beberapa rancangan tata ruang dan kemudian pilih salah satu yang menurut anda paling baik. c) Libatkan murid dalam perencanaan tata ruang kelas. Anda dapat merencanakan tata ruang sebelum sekolah dimulai, tetapi setelah sekolah dimulai, tanyakan kepada murid tentang bagaimana pendapat mereka tentang rencana anda itu. d) Cobalah rancangan dan bersikaplah fleksibel dalam mendesain. Beberapa minggu setelah masuk sekolah efektivitas tata ruang anda. Waspadalah pada problem yang mungkin muncul akibat penataan itu. C. Menciptakan Iklim Psikologis yang Efektif 1. Cara efektif bekerja sama antara guru dan murid Murid perlu lingkungan yang positif untuk pembelajaran. Cara efektif atau strategi positif membuat murid mau bekerja sama, yaitu diantaranya: a) Gaya manajemen kelas otoritatif Berasal dari gaya parenting menurut Diana Baumrind, seperti orang tua yang otoritatif, guru yang otoritatif akan punya murid yang cenderung mandiri, tidak cepat puas, mau bekerja sama dengan teman, dan menujukkan penghargaan diri yang tinggi. Fokus utamanya dari gaya ini adalah menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pengajaran dan pembelajaran. b) Gaya manajemen kelas permisif Memberi banyak otonomi pada murid, tapi tidak member banyak dukungan untuk pengembangan keahlian pembelajaran atau pengelolaan perilaku mereka.Tidak mengejutkan murid di kelas permisif ini cenderung punya keahlian akademik yang tidak memadai dan control diri yang rendah. c) Mengelola aktivitas kelas secara efektif Manajemen kelas yang efektif akan menunjukkan seberapa jauh mereka “mengikuti” apa yang terjadi. Guru dapat mengatasi situasi tumpang-tindih suatu permasalahan. Sehingga manajemen seperti ini akan menjaga aliran pelajaran tetap lancer, mempertahankan minat murid, dan murid tidak mudah terganggu. d) Dapat membedakan aturan dan prosedur Baik aturan maupun prosedur adalah pernyataan ekspektasi tentang perilaku. Aturan fokus pada ekspektasi umum atau spesifik atau standar perilaku. Sedangkan prosedur juga berisi ekspektasi tentang perilaku, namun biasanya diterapkan untuk aktivitas spesifik dan diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. e) Mengajak murid untuk bekerja sama Ada tiga strategi dalam mengajak murid untuk bekerja sama yaitu (a)Menjalin hubungan positif dengan murid, (b)Mengajak murid untuk berbagi dan mengemban tanggug jawab, (c)Memberi hadiah pada perilaku yang tepat.[5] 2. Strategi Pengajaran Yang Efektif a) Pengajaran yang efektif Pengajaran yang efektif tidak sekedar mengajar dengan baik, tetapi guru harus tahu bagaimana mengadaptasi pengajaran terhadap tingkat pengetahuan siswa, mememotivasi siswa untuk belajar, mengatur tingkah laku siswa, membentuk kelompok siswa untuk suatu pelajaran, dan memberikan tes atau penilaian kepada siswa. b) Pengajaran sekolah model Carrol: Mastery Learning Model pengajaran yang disampaikan oleh Carrol mengusulkan lima unsur yang dapat membuat pengajaran lebih efektif. Adapun lima unsur tersebut sebagai berikut : I. Kecerdasan, adalah kemampuan siswa pada umumnya untuk belajar. II. Kemampuan untuk mengerti pelajaran, yakni kesiapan siswa untuk belajar suatu pelajaran yang penting. III. Ketekunan, berkaitan dengan sejumlah waktu yang telah digunakan untuk belajar. Ketekunan adalah sebagian besar hasil dari motivasi siswa untuk belajar. IV. Kesempatan, adalah sejumlah waktu yang digunakan untuk belajar. V. Mutu pengajaran, pengajaran yang bermutu tinggi adalah jika siswa belajar bahan-bahan pelajaran yang disampaikan secepat kemampuan mereka dan tingkat pengetahuan dan ketrampilan yang telah ada sebelumnya. c) Pengajaran yang efektif model QAIT Baru–baru ini, Slavin menggambarkan suatu model yang memusatkan pada unsur–unsur model Carrol. Ia menyatakan bahwa guru atau sekolah dapat langsung berubah. Ini disebutthe QAIT (Quality, Appropriatness, Incentives, Time), suatu model pengajaran yang efektif. The QAIT dapat dijelaskan sebagai berikut :  Pengajaran yang bermutu (quality of instruction), tingkat dimana informasi dan ketrampilan disampaikan sehingga siswa dapat dengan mudah mempelajarinya.  Tingkat pengajaran yang tepat (appropriate levels of instruction), tingkat dimana guru yakin bahwa siswa siap untuk belajar pelajaran baru.  Incentive, tingkat dimana guru yakin bahwa siswa dapat dimotivasi untuk melakukan tugas–tugas pengajaran dan belajar materi yang disampaikan.  Time (waktu), tingkat dimana siswa diberikan waktu yang cukup lama untuk belajar bahan–bahan yang diajarkan. d) The Popham and Baker Goal Referenced Instructional Model Menurut Popham dan Baker, pengajaran yang efektif adalah suatu kemampuan untuk menghasilkan perubahan yang diinginkan dari kemampuan dan persepsi siswa. Model Popham dan Baker ini meliputi empat langkah operasional, yaitu : (1)Tujuan khusus dalam bentuk tingkah laku, (2)Status penilaian awal pelajaran, (3)Merancang dan memimpin kegiatan, (4)Menilai prestasi siswa sesuai dengan tujuan. D. Menjadi Komunikator yang Baik 1. Definisi Komunikator Komunikator adalah pihak yang mengirim pesan kepada khalayak. Oleh karena itu, komunikator biasa disebut pengirim, sumber, source atau encoder. Sebagai pelaku utama dalam proses komunikasi, komunikator memegang peranan yang sangat penting, terutama dalam mengendalikan jalannya komunikasi. Untuk itu, seorang komunikator harus terampil berkomunikasi, dan juga kaya ide serta penuh daya kreativitas 2. Komunikator yang Baik Keterampilan berbicara guru dan murid akan memperoleh banyak manfaat jika si komunikator punya kertampilan berbicara untuk memngembangkan keterampilannya. Mari kita bahas beberapa seterategi untuk berbicara di depan kelas antara lain: a. Menggunakan tata bahasa dengan benar. b. Memilih kosakata yang dapat dipahami dan tepat bagi level grade murid anda. c. Menerapkan strategi untuk meningkatkan kemampuan murid dalam memahami apa yang anda katakan. d. Berbicara dengan tempo yang tepat, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. e. Tidak menyampaikan hah-hal uang kabur. f. Menggunakan perencanaan dan pemikiran logis sebagai dasar untuk berbicara secara jelas. Komunikasi guru dengan peserta didik dikatakan efektif apabila terdapat aliran informasi dua arah antara guru sebagai komunikator dan peserta didik sebagai komunikan dan informasi tersebut sama sama direspon sesuai dengan harapan guru maupun peserta didik tersebut. Lima aspek yang harus diperhatikan guru guna membagun komunikasi yang efektif, yaitu: 1. Kejelasan 2. Ketepatan 3. Konteks 4. Alur 5. Budaya Menurut Sastropoetra berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikasn sama sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan. Syarat yang harus diperhatikan oleh guru agar komunikasi berjalan efektif, yaitu: 1. Menciptakan komunikasi yang menggantungkan bagi peserta didik. 2. Menggunakan bahasa yaang mudah ditangkap dan dimengerti oleh peserta didik. 3. Pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat bagi para peserta didik. 4. Pesan dapat menggugah kepentingan para peserta didik yang dapat menguntungkan. 5. Pesan dapat menumbuhkan suatu penghargaan bagi para peserta didik. Dalam proses pembelajaran , komunikasi dikatakan efektif jika pesan yang dalam hal ini adalah materi pelajaran dapat diterima dan dipahami, serta menimbulkan umpan balik yang positif oleh peserta didik. Komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan, agar terjadi hubungan yang harmonis antara guru dan peserta didik. Sokolove dan Sadker yang dikutip Wardani membagi ketrampilan antar pribadi dalam pembelajaran menjadi dua kelompok, yaitu: 1. Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan peserta didik 2. Kemampuan menjelaskan perasaan yang diungkapan peserta didik Agar dapat merefleksikan ungkapan perasaan peserta didik secara efektif, guru perlu mengingat hal hal berikut, yaitu: 1. Hindari prasangka terhadap pembicaraan/topik, 2. Perhatikan dengan cermat semua pesan verbal maupun non verbal dari pembicara, 3. Lihat, dengarkan, dan rekam dalam hati, kata kata /perilaku khas yang diperlihatkan pembicara, 4. Bedakan/simpulkan kata kata/pesan yang bersifat emosional, 5. Beri tanggapan dengan cara memprase kata-kata yang diucapkan, menggambarkan perilaku khusus yang diperlihatkan, dan tanggapan mengenai kedua hal tersebut, 6. Jaga nada suara, jangan sampai berteriak, menghakimi, atau seperti memusuhi, 7. Meminta klarifikasi terhadap petanyaan atau pernyataan yang disampaikan. Mendorong peserta didik untuk memilih perilaku alternatif untuk keperluan ini, guru harus memiliki kemampuan sebagai berikut, yaitu: 1. Mencari/mengembangkan berbagai perilaku alternatif yang sesuai. 2. Melatih perilaku alternatif serta merasakan apa yang dihayati peserta didik dengan perilaku tersebut. 3. Menerima balikan dari orang lain tentang keaktifan setiap perilaku alternatif. 4. Meramalkan konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang dari setiap perilaku alternatif. 5. Memilih perilaku alternatif yang paling sesuai dengan kebutuhan pribadi peserta didik. Strategi komunikasi efektif dengan peserta didik, menurut Arifin dalam bukunya “Strategi Komunikasi”, menyatakan bahwa sesungguhnya suatu strategi adalah keseluruhan keputusan kondisional tentang tindakan yang akan dijalankan, guna mencapai tujuan. jadi, merumuskan strategi komunikasi berarti memperhitungkan kondisi dan situasi (ruang dan waktu). Strategi komunikasi merupakan paduan yang merupakan perencanaan komunikasi(communication planning) dengan manajemen komunikasi (communication management) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. R Wayne Pace, Brent D.Peterson dan M. Dallas Burnett dalam bukunya “techniques for effective communication”, menyatakan bahwa tujuan sentral kegiatan komunikasi terdiri atas tiga tujuan utama yaitu: 1. to secure understanding 2. to establish acceptance 3. to motivate action Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan strategi komunikasi dengan peserta didik sebagai berikut: 1. Mengenali sasaran komunikasi Sebelum melakukan komunikasi, guru perlu mempelajari siapa saja yang akan menjadi sasaran komunikasi tersebut. 2. Pemilihan media komunikasi Media komunikasi sangat banyak jumlahnya, mulai dari media tradisional sampai dengan modern. Untuk mencapai sasaran komunikasi, guru bisa memilih beberapa media salah satu atau menggabungkan beberapa media, bergantung pada tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan, dan teknik yang dipergunakan. 3. Pengkajian tujuan pesan komunikasi Pesan komunikasi mempunyai tujuan tertentu ini menentukan teknik yang akan digunakan oleh guru. 4. Peran guru sebagai komunikator dalam komunikasi dengan peserta didik. Dalam peranannya sebgai komunikator, guru perlu memperhatikan dua faktor penting dalam diri guru sebagai komunikator apabila melakukan komunikasi dengan peserta didik, yaitu daya tarik sumber dan kredibilitas sumber Ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan oleh guru dalam komunikasi pembelajaran yang efektif, yakni sebagai berikut: 1. Penggunaan terminologi yang tepat 2. Presentasi yang sinambung dan runtut 3. Sinyal transisi atau perpndahan topik bahasan 4. Tekanan pada bagian bagian penting pembelajaran 5. Kesesuaian antara tingkah laku komuikasi verbal dengan tingkah laku komunikasi non verbal. Kemudian ada beberapa komponen lagi yang harus diperhatikan oleh guru juga, dalam komunikasi yang efektif sebagai berikut: 1. Respect Bahwa seorang pendidik/guru harus bisa menghargai setiap peserta didik yang dihadapinya. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam berkomunikasi dengan orang lain. 2. Emphaty Emphaty adalah kemampuan menempatkan diri pada situasi atau kondisi atau yang dihadapi orang lain. 3. Audible Audible artinya dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. 4. Clarity Clarity berarti kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interprestasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. 5. Humble Dalam komunikasi guru perlu menghargai, mau mendengar, menerima kritik, tidak sombong dan tidak memandang rendah peserta didik. 3. Metode komunikasi dengan peserta didik Guru yang baik seharusnya memahami karakteristik peserta didiknya agar ia sukses dalam melaksanakan peran pembelajarannya. Proses komunikasi dalam menyampaikan suatu tujuan lebih dari pada sekedar menyalurkan pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan dan maksud-maksud secara lisan atau tertulis Untuk membuat peserta didik sebagai komunikan mengikuti keinginan guru sebagai komunikator terdapat tiga metode komunikasi dengan peserta didik yang dapat digunakan, yaitu: 1. Metode komunikasi informatif yakni guru menyampaikan pesan tentang hal hal baru yang perlu diketahui kepada peserta didik. 2. Metode komunikasi persuasif yakni guru mempengaruhi sikap, pandangan atau perilaku peserta didik dengan cara membujuk dan mengajak 3. Metode instruktif/koersif yakni komunikasi guru dengan peserta didik yang mengandung sanksi kepada peserta didik apabila tidak melaksanakan sesuatu yang telah ditentukan. Dalam komunikasi dengan peserta didik dalam proses pembelajaran, guru juga dapat menggunakan metode sebagai berikut, yaitu: 1. Metode secara langsung, yakni memberikan pelajaran atau melaksanakan pembelajaran secara langsung dengan bertatap muka dalam satu kelas 2. Metode secara tidak langsung, yakni guru memberikan suatu pembelajaran melalui suatu media tanpa harus bertatap muka secara langsung dan peserta didik pun mendapatkan informasi secara luas melalui media tersebut. 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak-efektifan Komunikasi Ketidak-efektifan komunikasi antar pribadi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu: a. Faktor interpersonal, yaitu faktor faktor yang ada dalam diri komunikator dan komunikan. Yang tergolong ke dalam faktor ini adalah persepsi selektif, perbedaan individual dalam ketrampilan komunikasi, dan perbedaan dalam kerangka acuan. b. Faktor interpersonal, yaitu faktor yang ada dalam hubungan antar pribadi, yang meliputi antara lain iklim hubungan, kepercayaan, kredibilitas, kesamaan antara pemberi dari penerima, timbangan nilai. c. Faktor-faktor organisasional, yaitu hal hal yang terdapat dalam organisasi, yang meliputi antara lain status 1. Seorang dalam organisasi, 2. Jenjang transmisi yaitu adanya hirarkis proses penyampaian pesan dari satu tahap ke tahap lainnya, yang dapat menyebabkan terjadinya kondensasi, ketertutupan, ekspetasi, asosiasi 3. Ukuran kelompok 4. Hambatan jarak ruang 5. Adanya filter (penyaringan) 6. Bahasa kelompok d. Faktor teknologis, ialah hal hal yang berkaitan dengan unsure penunjang komunikasi yaitu: bahasa dan makna, rangsangan rangsangan non-verbal (isyarat badan, postur fisik, ekspresi muka, gerakan badan, sentuhan, perilaku visual), keefektifan saluran, tekanan waktu dan beban informasi

0 komentar:

Posting Komentar